Jumat, 08 Agustus 2008

Masjid Kuno Santren Bagelen


Masjid Santren Bagelen adalah masjid tertua di wilayah Bagelen. Didirikan pada tahun 1618, masjid ini berasitektur tradisional Jawa dengan atap tajuk tumpang satu. Konstruksi kayu serta gonjo Masjid Santren sama dengan yang ada di Masjid Menara Kudus dan Masjid Kajoran, Klaten. Ada kemungkinan ketiga masjid ini berasal dari masa pembuatan yang sama. Di sisi utara dan selatan terdapat sederet makam yang diberi cungkup diantaranya terdapat beberapa makam berprasasti.

Serambi masjid terdiri dari dua ruang. Ruang utama berbentuk bujur sangkar berukuran 10x10 m dengan lantai yang didominasi warna hijau. Terdapat 4 tiang soko guru berbentuk bulat dengan diameter 40 cm dan diantara deretan tembok pada ruang utama terdapat 12 buah soko rowo.

Pada salah satu soko rowo di sebelah utara mihrab terdapat prasasti dalam huruf Arab yang berbunyi; “Masjid ini dibangun di negeri yang agung untuk leluhur yang sudah meninggal atas perintah isteri Sultan Mataram, diberikan kepada Ustadz Baidlowi dan sebenarnya yang membuat masjid ini Khasan Muhammad Shufi, semoga ia mendapat ridla Allah, berupa nikmat dunia dan akhirat dan ditetapkan imannya.”

Kisah mengenai Masjid Santren ini tampaknya berawal dari jaman pemerintahan Kerajaan Mataram di bawah Panembahan Senopati, dimana Bagelen merupakan daerah yang memiliki peranan penting sebagai “Negara Agung” yang merupakan daerah di luar wilayah ibukota. Bagelen adalah pertahanan terakhir Mataram sebelum ibukota yang memiliki nilai strategis militer bagi Kerajaan Mataram.

Kerajaan Mataram mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Agung 1613-1645. Pada masa itu hiduplah seorang ulama besar bernama Kyai Baidlowi di daerah Bagelen, yang senantiasa setia membantu Mataram melawan Belanda. Dengan ilmunya yang tinggi, Belanda sering dibuat tak berdaya menghadapi Mataram yang dibantu oleh Kyai Baidlowi.

Atas jasanya yang besar bagi Mataram, isteri Sultan Agung lalu menghadiahi sebuah masjid yang pembangunannya diarsiteki oleh Khasan Muhammad Shufi. Hadiah masjid ini mencerminkan keadaan pertahanan Mataram yang sangat bergantung pada hubungan baiknya dengan Bagelen. Masjid ini sekaligus menandai perkembangan Islam yang telah mencapai wilayah Bagelen di jaman pemerintahan Sultan Agung.

Kyai Baidlowi beserta anaknya RKH Khasan Moekibad dimakamkan di areal masjid ini. Para peziarah di hari-hari besar Islam maupun sehari-harinya banyak yang berkunjung ke tempat ini. Juru kunci yang sampai saat ini mengabdikan dirinya di Masjid Santren Bagelen adalah keturunan langsung dari Kyai Baidlowi.

Lokasi Masjid Santren Bagelen sangat mudah dijangkau, terletak didekat jalur utama Jalan Raya Purworejo-Jogjakarta Km. 11. Atau tepatnya di Pedukuhan Bedug, Desa/Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Pengunjung dapat menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat untuk menuju lokasi. Jalannya pun cukup mulus karena sudah beraspal, jarak tempuh dari Jalan Raya Purworejo-Jogjakarta hingga lokasi kurang lebih hanya 500 meter. (Sumber : Buku Wisata Ziarah)

3 komentar:

Mas Fauzi mengatakan...

Kyai Baidlowi beserta anaknya RKH Khasan Moekibad dimakamkan di areal masjid ini.....Mohon di periksa lagi, Kyai Baidlowi tidak dimakamkan di kompleks masjid Santren tetapi di Brosot, Kulonprogo.

Unknown mengatakan...

Kalo RKH khasan moekibad itu di makamkan di mana...

Unknown mengatakan...

Kyai baidlowi dimakamkan di pemakaman deket pesantren di daerah Selatan jembatan Srandakan Kulon Progo.